Mickey Mouse

Jumat, 09 Oktober 2015

Sistem Informasi dan Penerapannya


Audi Resti Irwanti
4PA09 / 11512239
Tugas 1 !

            Sebelum membahas pengertian sistem informasi, kita harus mengetahui terlebih dahulu arti dari dua kata ini, sistem dan informasi. Sistem merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu (Jogiyanto, 2005). Sedangkan informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Kegunaan informasi ini untuk mengurangi ketidakpastian di dalam proses pengambilan keputusan tentang suatu keadaan (Jogiyanto, 2005).
            Dari pengertian sistem dan informasi diatas tersebut, maka baru kita bisa menjelaskan seperti apa pengertian dari sistem informasi itu. Menurut Robert A.Leitch dan K. Roscoe Davis (dalam Jogiyanto, 2005), sistem informasi merupakan suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.
            Sistem informasi ini dapat diterapkan dalam banyak aspek, misalnya saja dalam pendidikan, organisasi, SDM, kesehatan, dsb. Disini saya akan sedikit membahas penerapan sistem informasi dalam aspek kesehatan khususnya keperawatan. Dengan adanya perkembangan teknologi sistem informasi keperawatan berbasis komputer, ini akan memudahkan dalam pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan kepada pasien, juga dapat meningkatkan pelayanan kepada pasien secara optimal. Dengan sistem informasi keperawatan juga dapat mengurangi resiko-resiko kehilangan data, memudahkan dalam mencari data yang tersimpan, dan banyak lainnya. Sehingga penerapan sistem informasi ini begitu penting untuk mendukung profesionalisme berbagai macam bidang khususnya keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
  1. www.ilmupengetahuan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55:psi&catid=39:msi&Itemid=57
  2. m.kompasiana.com/140473/peningkatan-mutu-pelayanan-keperawatan-melalui-sistem-manajemen-keperawatan-berbasis-komputer_552a192df17e61175ad623d9

Senin, 11 Mei 2015

Tugas kedua Psikoterapi



Audi Resti Irwanti
3PA09 – 11512239
Tugas Psikoterapi 2 !
TERAPI KELUARGA
1.      Pengertian Terapi Keluarga !
Menurut Roberts & Greene (2008) terapi keluarga adalah suatu bentuk terapi relasi (a relationship form of therapy), yang sering dipraktikkan dalam suatu kerangka sistem. Sedangkan menurut Kartini Kartono dan Gulo (dalam Somaryati dan Astutik) adalah suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubngan antara pasien dengan anggota-anggota keluarganya. Terapi keluarga menurut Almasitoh adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Terapi keluarga ini bisa saja dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan orang lain.
Jadi terapi keluarga ini merupakan suatu proses penanganan masalah yang berkaitan dengan hubungan antara sesama keluarga.

2.      Cara melakukan terapi keluarga!
Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan dalam terapi keluarga, diantaranya :
§  Pemeragaan
Memeragakan saat terjadinya masalah yang bersangkutan muncul. Misalnya ayah dan anaknya yan sedang bertengkar, kemudain terapis membujuk mereka untuk terus berbicara setelah itu terapis memberikan saran-saran dan bisa disebut dengan psikodrama.
§  Homework
Mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.
§  Family Sculpting
Mendekatkan diri dengan anggota keluarganya yang lain dengan cara nonverbal
§  Genograms
Sebuah cara bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga genogram, yaitu sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga.

Dan tahapan dalam terapi keluarga juga bisa seperti,
§  Initial Interview
Proses ini meliputi :
a.      Engagement Stage
Pertemuan keluarga dan menjelaskan apa yang mereka inginkan.
b.      Assessment Stage
Mengindentifikasi masalah yang menjadi perhatian keluarga.
c.       Exploratioan Stage
Terapis dan keluarga mengeksplorasi masalah lain yang berkaitan dengan masalah utama.
d.      Goal-Setting Stage
Terapis mensistensi semua informasi, dna anggota keluarga menetapkan apa yang  ingin mereka ubah.
e.       Termination Stage
Akhir pada fase ini, yang menetapkan kontrak untuk pertemuan berikutnya dan siapa saja anggota keluarga yang harus hadir dalam perteman tersebut.
§  Fase Kerja
Yang bertujuan untuk mmbantu keluarga menerima dan menyesuaikan diri dengan  perubahan, selama fase ini terapis mengidentifikasi kekuatan dan permasalahan keluarga.
§  Fase Terminasi
Biasanya hal ini terjadi jika keluarga merasa perubahan yang terjadi mengancam fungsi keluarga yang sudah ada. Terapis harus melakukan review terhadap masalah yang telah teridentifikasi dengan keluarga. Dan jika sudah terselesaikan, maka terminasi harus dilakukan.

3.      Manfaat dalam terapi keluarga, diantaranya :
§  Membantu memperjelas komunikasi dalam keluarga dan menghindarkan adanya keluhan-keluhan.
§  Mengembangkan komunikasi bagi seluruh keluarga
§  Menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang terjadi dalam datu keluarga.
§  Dapat meningkatkan keterampilan interpersonal dan perilaku
§  Mampu mengembangakan koomuniiasi secara terbuka
§  Dapat meningkatkan fungsi keluarga secara optimal
§  Dapat memfasilitassi perubahan positif dalam keluarga

4.      Kasus-kasus yang dapat diselesaikan dalam terapi keluarga, biasanya terjadi dalam kasus pendidikan, baik pada anak yang memiliki hambatan dalam belajar ataupun anak-anak yang mengalami gangguan mental sehingga peran keluarga sangat dibutuhkan dalam permasalahan ini selain pada lingkungan. Kasus lain yang bisa ditangani dengan terapi keluarga juga pada konflik perkawinan, bidang sosial seperti pada kenakalan remaja karena meski lingkungan sangat berpengaruh pada proses perkembangan anak, tetapi dalam pembentukan komunikasi keluarga ataupun pola asuh juga mempengaruhi dan juga bidang klinis seperti pada anorexia ataupun skizofrenia.

5.      Contohnya :
Anak yang menderita szikofrenia, kemudian orangtuanya membawa ke rumah sakit untuk ditangani, setelah bertahun-tahun melakukan proses terapi, kondisi anak ini semakin membaik, sehingga bisa untuk diperbolehkan kembali pulang kerumah. Namun saat kembali kerumah, kondisi anak ini kembali memburuk, hingga oramgutanya kembali membawa anak tersebut ke rumah sakit. Tetapi setelah dicari kemabli apa penyebab munculnya indikasi gangguan tersebut, ternyata dari pihak kelurganya yang ternyata tidak menerima keadaan si anak yang mengalami ganggua tersebut, dan jika si anak melakukan suatu hal yang dianggap tidak wajar, anak ini terus dimarahi. Dan dari contoh ini, seharusnya dilakukan terapi keluarga, agar mampu memberikan kasih sayang yang utuh dan juga mampu memberikan dukungan pada anak.

Daftar Pustaka :
  1. Almasitoh. (2012). Model Terapi Keluarga. Magistra No. 80 th.XXIV
  2. Fawziah, A., Rohana & Hidayat, A.R. (2011). Tugas Psikoterapi: Family Therapy (Terapi Keluarga). Diakses pada tanggal 10 Mei 2015, dari http://www.scribd.com/doc/111760136/Family-Therapy-Terapi-Keluarga 
  3. Roberts, A.R & Greene, G.J. (2008). Buku Pintar Pekerja Sosial. Jakarta : Gunung Mulia
  4. Somaryati & Astutik, S. (2013). Family Therapy dalam Menangani Pola Asuh Orang Tua yang Salah pada Anak Slow Learner. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. Vol.03 No 01
  5. Wijayanti, D.Y. (2010). Terapi Keluarga. Diakses pada tanggal 10 Mei 2015, dari https://macind.files.wordpress.com/2010/12/terapi-keluarga.pptx

Jumat, 03 April 2015

Tugas Pertama Psikoterapi - Pendekatan dalam Psikoterapi

Nama  : Audi Resti Irwanti
Kelas   : 3-PA-09
NPM   : 11512239

Softskill Psikoterapi tugas 1 !
1.      Berikan ulasan mengenai :
a.       Pendekatan psikoanalisa dalam psikoterapi
Pada pendekatan ini, cara penanganan terhadap keadaan psikologis berdasarkan kondisi-kondisi masa lalu yang dialami oleh klien. Teknik yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud ini mencoba menjelajahi alam ketidaksadaran kliennya melalui salah satunya wawancara asosiasi bebas, sampai klien menemukan sumber masalahnya yang biasa terdapat pada alam ketidaksadaran tersebut. Tahap yang paling penting pada pendekatan ini saat klien sudah mengalami katarsis, yaitu klien mampu meluapkan emosinya sehingga bisa menimbulkan perasaan yang lega atau memuaskan .Dalam pendekatan psikoanalisis memiliki kelemahan, yaitu proses penyembuhan ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun.
b.      Pendekatan psikologi belajar di dalam psikoterapi
Pada pendekatan ini sangat menitikberatkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai faktor penting dimana seseorang dipengaruhi, seseorang belajar. Perbedaan antara pendekatan ini dengan pendekatan psikoanalisis yaitu pada pendekatan ini sangat menekankan kepada perilaku klien saat ini, bukanlah yang terjadi pada masa lalu seperti yang diungkapkan pada pendekatan psikoanalisa. Kelemahan yang terdapat pada pendekatan ini, sewaktu-waktu akan timbul kembali jika ada trauma baru atau kejadian yang tidak dikehendaki, atau jika persoalan intinya belum terpecahkan dapat menimbulkan gejala atau keluhan lain.
c.       Pendekatan psikologi humanistik di dalam psikoterapi
Pendekatan ini dianjurkan oleh Carl Rogers karena ia beranggapan bahwa semua individu memiliki aspek-aspek positif dalam dirinya. Psikoterapis bertugas untuk membantu klien menulusuri semua aspek positif dalam dirinya, agar klien bisa mengembangkan dirinya secara positif dan meninggalkan gejala-gejala gangguan mentalnya .Pendekatan ini akan terlihat sederhana jika dilihat dari teori, namun akan mengalami kesulitan saat praktik karena tidak semua konselor mudah untuk memiliki penerimaan positif tidak bersyarat, dan pengertian secara empati. Jika kondisi kongruensi, penerimaan positif tidak bersyarat, dan mendengarkan secara empati dari terapi tersedia dengan baik dalam hubungan klien-konselor, maka proses terapi dapat terjadi. Jika proses terapi terjadi, maka beberapa hasil dapat diprediksi.
d.      Pendekatan psikologi kognitif di dalam psikoterapi
Pada pendekatan kognitif segala emosi negatif terhadap suatu hal/benda tertentu , dibahas tuntas secara rasional, hingga pada akhirnya klien tidak lagi melihat alasan mengapa ia harus beremosi negatif dan klien pun mengubah perilakunya menjadi lebih positif. Menurut Martin & Pear tujuan dari pendekatan ini yaitu mengajak klien untuk menentang pikiran yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi, (dalam Fatma & Ernawati, 2012).

2.      Contoh kasus dari pendekatan diatas :
a.       Psikodinamik
Ada seorang individu yang mengalami trauma saat masa kecil, ketika setiap melakukan suatu kesalahan pasti selalu mendapatkan hukuman yang menyakitkan bagi dirinya sehingga sampai dewasa ini, dia menjadi pendiam/introvert karena takut untuk melakukan sesuatu dan takut melakukan kesalahan. Dan setiap kali jika mengalami suatu kesalahan, dia akan merasa takut akan ada seseorang yang menghukun dan menyakitinya.
b.      Behavioristik
Pendekatan ini bisa digunakan pada penderita phobia. Mela mengalami phobia terhadap karet gelang, setiap dia melihat karet gelang, Mela akan berlari bahkan menjerit dan menangis. Mela benar-benar menghindari segala hal apapun yang berhubungan dengan karet gelang.
c.       Humanistik
Pendekatan ini cocok untuk individu yang memiliki rasa kurang percaya diri. Seperti yang terjadi pada Esa, ia memiliki berat badan yang berbeda dari teman-teman ataupun lingkungan terdekatnya, sehingga lambat laun, Esa merasa kurang percaya diri, hingga akhirnya Esa menarik diri dari lingkungan sosialnya.
d.      Kognitif
Contoh kasus pada pendekatan ini bisa juga seperti pada contoh kasus pada behavioristik yaitu mengenai phobia pada karet gelang, dipikiran Mela karet gelang itu akan bergerak-gerak seolah hidup seperti cacing jika anggota tubuhnya menyentuh karet gelang tersebut.

3.      Pandangan mengenai kasus diatas berdasarkan pendekatannya :
a.       Psikodinamik
Contoh kasus di atas cocok untuk ditangani dengan pendekatan psikodiamik karena erat kaitannya dengan kondisi masa lalu. Terapis bisa melakukan asosiasi bebas, untuk menemukan akar permasalahannya. Hingga akhirnya mengetahui berawal dari mana, klien ini mengalami ketakutan berlebihan dalam melakukan sesuatu dan membuat dirinya menjadi introvert.
b.      Behavioristik
Pada dasarnya masalah phobia memang cocok untuk diselesaikan dengan pendekatan behavioristik. Bisa dengan cara pembelajaran awal, mendekatkan benda yang ditakuti pada klien dengan hal-hal yang menyenangkan bagi klien sehingga akhirnya nanti ada penggabungan positif antara benda yang ditakuti dengan hal-hal yang menyenangkan bagi klien tersebut.
c.       Humanistik
Kasus yang disebutkan diatas cocok dengan pendekatan ini sebab pada pendekatan ini menekankan pada adanya aspek-aspek positif dari klien, sehingga saat klien merasa tidak percaya diri, akan digali oleh terapis bahwa klien memiliki hal yang membanggakan dan lebih menunjukan suatu prestasi daripada harus terfokus pada pemikiran bahwa dirinya memiliki berat badan yang jauh lebih besar dibandingkan teman disekitar lingkungannya. Jadi jika klien sudah memahami kelebihan-kelebihannya, akan meningkatlah harga dirinya.
d.      Kognitif
Cocok digunakan juga penderita phobia, karena banyak juga penderitanya berfikir secara irasional. Disini lah peran psikologi kognitif, terapis harus mampu mengubah kognisi klien dengan harapan adanya perubahan pada pemikiran terhadap karet gelang tersebut dan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan pikiran mereka.

Daftar Pustaka :
Basuki, H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
Fatma, A., Ernawati, S. (2012). Pendekatan Perilaku Kognitif dalam Pelatihan Keterampilan Mengelola Kecemasan Berbicara di Depan Umum. Talenta Psikologi. Vol. I, No. 1
Feist, J., & Feist, G.J. (2010). Teori Kepribadian edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika
Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia
Handout Psikologi Konseling
Sarwono, S.W. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada






Rabu, 28 Januari 2015

TUGAS 3 PSIKOLOGI MANAJEMEN


TUGAS 3 SOFTSKILL MANAJEMEN
AUDI RESTI IRWANTI – 3PA09
11512239

  1. Menurut saya peranan konflik memang bukan suatu hal yang mudah untuk dihindari, konflik pun bukan untuk dihindari karena ada beberapa organisasi konflik yang bisa diselesaikan dan dijadikan sebagai indikator kemajuan dalam organisasi. Konflik sendiri merupakan bentuk ekspresi pertikaian individu satu dengan individu lainnya karena berbagai alasan, yang bisa diekspresikan secara verbal ataupun non verbal. Menurut Stephen (dalam Indriyatni, 2010) konflik itu adalam melalui suatu proses yang dimulai dari adanya “anggapan” dari seseorang kepada orang lain, yang kemudian menajdi masalah. Ada tidaknya suatu konflik dalam suatu organisasi adalah tergantung dari persepsi pihak-pihak yang terkait. Dan tidak selalu konflik itu akan membawa pada pengaruh yang negative bagi kinerja perusahaan atau organisasi. Jadi peranan konflik ini, kembali lagi pada peranan pemimpin yang bisa mengarahkan konflik yang ada ini ke arah yang diinginkan dan akhirnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasinya.
CONTOH KASUS :
Merdeka.com - Nasib salah satu maskapai penerbangan, tak beranjak dari ujung tanduk. Terpilihnya Rudy Setyopurnomo menjadi direktur utama maskapai tersebut menggantikan Sardjono Johny Tjitrokusumo Mei tahun lalu ternyata belum membawa perubahan.
Alih-alih janji Rudy untuk membawa keuntungan dalam waktu enam bulan terwujud, internal perusahaan maskapai tersebut morat marit.
Tak lama setelah menjabat sebagai Dirut *******, Rudy telah kehilangan anak buahnya yaitu Direktur Teknik pada Juli tahun lalu. Pengunduran diri pimpinan teknik pesawat itu lantaran Rudy menyindir divisinya sering melakukan korupsi.
Baru-baru ini, Direktur Operasional ******* Asep Eka Nugraha juga mundur dari maskapai tersebut. Dia mengatakan, aksi ketidakpercayaan karyawan kepada pihak manajemen sudah semakin meluas. "Upaya saya sebagai Direktur Operasi untuk memperbaiki keadaan ditanggapi dengan arogansi yang mengakibatkan terjadinya perombakan jajaran manajemen di direktorat operasi tanpa mempertimbangkan efek dari tindakan tersebut," ujar Asep di Jakarta, Kamis (14/2).
Setelah itu, beberapa para juga turut melakukan perlawanan ke Rudy. Pekan lalu, sejumlah karyawan mengancam akan menyegel kantor Rudy. Alih-alih mencari solusi dengan karyawan, Rudy malah menuduh karyawan tersebut mempunyai kinerja yang buruk sehingga melakukan protes terhadapnya.
Di sisi lain, perihal pelaporan dirinya ke Polda Metro Jaya oleh Johny, dia merasa dikriminalisasikan. "Saya tidak pantas menjadi tersangka," tegas dia.
Mengenai konflik internal ini, Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan harusnya direksi fokus agar maskapai tersebut bisa terbang lagi. "Saya minta direksi ******* tidak memikirkan itu, pikirkan hidupnya dulu. Bisa buat ******* terbang dulu juga sudah bagus. Yang penting ******* bisa membeli bahan bakar, gaji pegawai," ucap Dahlan di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (25/2).
Rangkuman Keadaan :
Pergantian direktur pada maskapai penerbangan tidak membuat manajemen maskapai penerbangan tersebut semakin membaik apalagi dengan adanya ketidak percayaan pimpinan pada jajaran managemen yang membuat para karyawan tidak nyaman sehingga memutuskan untuk mundur dari perusahaan maskapai tersebut.
Penyelesaian Kasus :
Pimpinan direksi diminta agar tidak memikirkan hal-hal tersebut diatas terlebih dahulu sehingga nanti pada akhirnya maskapi penerbangan tersebut bisa beropersi seperti semula. Dan seharusnya tuduhan dari pihak direksi harus dipandang secara bersama dengan semua pihak, kemudian periksa masing-masing persepsi dari tiap pihak dan baru kemudian tentukan kesepakatan bersama dalam akhir keputusan.
  1. Peranan kepemimpinan untuk mengatasi konflik struktural dan konflik fungsi kerja, menurut saya dalam mengatasi konflik struktural yang merupakan konflik yang erat kaitannya dengan hirarki jabatan dan konflik fungsi kerja yang merupakan konflik yang terjadi pada suatu bagian A dengan bagian B dimana antara bagian ini memiliki pemahaman yang berbeda untuk menyelesaikan pekerjaan pemimpin harus mampu memahami karakter kepemimpinan dalam pola demokrasi, karena di sistem demokrasi ini sangat di titik beratkan pada hubungan manusia dan kerja tim sehingga nantinya sikap yang ditunjukan pemimpin tidak akan memberatkan salah satu pihak. Dengan memahami peranan pola demokrasi tersebut bisa melakukan penyelesaian masalah dengan baik, karena akan muncul sifat keterbukaan mengenai masalah yang sedang dialami. Kepemimpinan yang demokratis juga akan mampu mengakibatkan produktivitas yang lebih baik pada suatu organisasi. Menurut Chernyshev dan Suryaninova (dalam Sarwono, 2005) pemimpin yang paling berhasil adalah pemimpin yang mampu mengatasi konflik-konflik internnya. Pemimpin juga harus mampu membuat jaringan yang erat dari hubungan-hubungan informal sehingga bisa membantu mengkoordinasikan berbagai kegiatan kepemimpinan degan cara yang kurang lebih sama dengan cara kerja struktur formal dalam mengkoordinasikan berbagai kegaitan menajerial, dan apabila terjadi konflik antar peran, maka dengan adanya hubungan tersebut bisa menyelesaikan konflik tersebut (Kooter, 1999). Dan seperti yang sudah disebutkan pada soal no 1, bahwa peranan konflik ini kembali pada peranan pemimpin yang bisa mengarahkan konflik ke arah yang diinginkan hingga akhirnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasinya.
CONTOH KASUS :
KARAWANG,RAKA - Pemerintah Daerah (Pemda) diminta menyelesaikan perseteruan yang terjadi di tubuh PT.APF Karawang. Permintaan ini dilontarkan terkait ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut adalah pekerja lokal Karawang. Selain terpicu oleh kehadiran para preman di lingkungan perusahaan itu. Ada sekitar 1500 karyawan yang saat ini sedang mengalami kegelisahan di perusahaan PT.APF Karawang. Hal itu karena mereka menjadi korban perkelahian Top Managemen yang ada, dengan adanya gangguan dari kelompok preman yang sengaja didatangkan kedalam perusahaan tersebut. Pengurus PUK serikat pekerja Keb.SPSI yang namanya minta dirahasiakan mengatakan untuk saat ini konflik antar Top Managemen perusahaan sudah mulai mengganggu karyawan. Hal itu dengan masuknya sekelompok preman dilingkungan perusahaan PT.AFP. ”Untuk kita (karyawan, red) perseteruan antara pemilik perusahaan Marimuthu Sinipasan dengan pihak Investor sudah mulai mengganggu. Karyawan sudah tidak nyaman ketika bekerja. Untuk itu, karyawan meminta pihak berwenang dalam hal ini Pemda ikut campur menyelamatkan nasib karyawan yang semuanya masyarakat Karawang,” ungkap pengurus PUK. Ditambahkannya, nasib sekitar 1500 karyawan PT APF itu semuanya kepala keluarga. Jika itu dikonversi dengan keluarga ada sekitar empat ribuan keluarga yang akan menjadi korban jika pada akhirnya nasib karyawan menjadi korban karna perusahaan ditinggal investor. ”Kita mengetahui dan mengalami kalau perusahaan bekas anak perusahaan Texmako group ini baru bisa bangkit dari kebangkrutan. Dengan masuknya investor sebenarnya perusahaan ini sudah membaik. Sayangnya, dengan kehadiran dua orang kepercayaan pihak pemilik perusahaan Marimuthu Sinipasan yaitu Ariyadi Ahmad dan juga Neveilson Abdullah yang kebetulan selaku Direktur WKP yang juga bagian dari PT APF kondisinya jadi memburuk," akuinya. Dilanjutkannya, untuk itu pihak karyawan meminta bantuan Pemda untuk ikut menyelamatkan nasib masyarakatnya di PT.APF. Jika tidak, kata ia, bagaimana mereka kelak untuk mendapatkan kerja lagi. Hal ini, karena mereka yang berada di PT APF sudah tahunan. ”Kita meminta Pemda dalam hal ini ikut campur menyelesaikan nasib para karyawan yang mencapai sekitar 1500 itu. Dengan wewenang Pemda selaku tuan rumah bisa melakukan lobi- lobi menyelesaikan masalah. Minimal untuk kemanan kerja karyawan saat ini menjadi nyaman. Karena saat ini,perusahaan sudah dimasuki preman yang berasal dari luar Karawang,” ungkapnya lagi. Diakuinya lagi, permasalahan ini juga sudah diadukan kepada Pemda, DPRD namun hingga kini belum ada penyelesainya. ”Kita berharap Pemda dan DPRD bisa turun langsung kelapangan. Hal ini juga untuk membuktikan kalau kita para karyawan memang membutuhkan bantuan Pemda dan DPRD terkait permasalahan yang ada. Hal ini juga untuk menjamin kelangsungan pihak investor merasa nyaman berada di Karawang. Sebab permasalahan yang ada saat ini murni, perkelahian antara investor yang sudah berhasil bangkit dari kebangkrutan tapi setelah aman. Pihak perusahaan ingin menguasai dengan cara yang tidak bener dengan mengerahkan preman bayaran,” terangnya.(dri)

Rangkuman keadaan :
Ketidaknyamanan bekerja yang dialami karyawan PT tersebut merupakan buah dari adanya konflik antara top managemen karena adanya sikap monopoli apalagi di tambah dengan hadirnya beberapa preman yang dibiarkan ada dalam lingkungan kerja yang membuat para karyawan semakin merasakan ketidaknyamanan. Sehingga para karyawan membutuhkan peran pemerintah yang juga memiliki otoritas yang tinggi untuk membantu menyelesaikan masalah ini.

Penyelesaikan Kasus :
Menurut saya, seharusnya dalam konflik ini kedua belah pihak harus bisa mendengarkan masing-masing pendapat secara baik dan bisa dengan adanya pihak ketiga, dimana disini yang menjadi pihak ketiga adalah pemerintah daerah. Serta pada kedua belah pihak mampu mengurangi ego untuk memonopoli perusahaan. Dan juga diminimalisir suatu hal atau kegiatan yang jika pada akhirnya membuat karyawan merasa tidak nyaman dalam bekerja,

  1. Pendapat saya mengenai praktek dehumanisasi dalam praktek manajemen sangat tidak setuju, sebab bagi saya sangat tidak manusiawi dan seakan tidak menghargai berbagai perbedaan yang memang ada di Indonesia ini, seharusnya di Indonesia sendiri yang menganut sistem “Meski Berbeda Tetap Satu Jua” tidak menggampangkan hal-hal seperti ini dan seharusnya di Indonesia sudah paham betul mengenai berbagai ragam perbedaan baik dari budaya, bahasa, ras ataupun agama.
CONTOH KASUS :
a.    Ketua Federasi Buruh Lintas Pabrik, Jumisih, di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jumat (25/10) mengatakan, buruh perempuan di Indonesia hingga saat ini masih terus mendapatkan diskriminasi dan rentan terhadap pelecehan dan kekerasan seksual di tempat kerja.
Para buruh perempuan lanjutnya kerap disuruh bekerja melebihi jam kerja yang telah ditentukan tanpa mendapatkan uang lembur, padahal Undang-udang No.13/2003 menyatakan bahwa jam kerja buruh adalah delapan jam. Dalam hal reproduksi seperti cuti haid dan cuti melahirkan contohnya, Jumisih mengatakan banyak perusahaan yang mengabaikannya. Sekarang ini, lanjutnya, perusahaan banyak yang menghilangkan adanya cuti haid bagi buruh perempuan. Perusahaan, menurut Jumisih, banyak yang memberhentikan buruh perempuan yang hamil dengan alasan yang mengada-ada karena tidak mau menanggung biaya persalinan.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, buruh perempuan rentan terhadap pelecehan dan kekerasan seksual karena buruh perempuan masih dianggap kelas nomor dua dalam industri sehingga kerap diperlakukan tidak nyaman oleh atasan-atasannya. Berdasarkan survei yang dilakukan lembaganya di basis-basis pabrik, lanjut Jumisih, hampir semua buruh perempuan pernah mengalami pelecehan seksual. "Semua buruh perempuan pernah mengalami kekerasan seksual di tempat kerja, entah dilakukan oleh atasan atau personalia," ujar Jurnisih.
"Ada buruh perempuan yang sampai dibopong oleh atasannya, dibawa ke ruang tertentu untuk dicium-ciumi. Ada buruh perempuan yang sampai melakban bajunya karena saking seringnya terjadi pelecehan seksual. Buruh perempuah masuk ke WC diikuti." Selain itu, gaji buruh perempuan, menurut Jumisih, lebih rendah dibanding buruh laki-laki. Kesenjangan upah antar gender sebanyak 17-22 persen. Dengan kondisi tersebut, tambah Jumisih, pemerintah tidak melindungi. Jumisih mengatakan buruh perempuan juga mendukung rencana aksi mogok nasional yang akan dilakukan buruh pada tanggal 31 Oktober hingga 1 November. Aksi tersebut dilakukan untuk menuntut agar upah buruh naik minimal 50 persen.Menurutnya Kenaikan upah sangat penting buat buruh karena untuk mencukup kebutuhan hidup.
b.       Jakarta, NU Online.
Tahun lalu, Komisi Perlindungan Kesetaraan diantara para Pekerja Amerika Serikat menerima 3811 keluhan. Para pekerja menuduh majikan mereka melakukan diskriminasi atas dasar agama, seperti dilaporkan oleh koran "Vedomosti".
Sebagai contoh, seorang penambang Kristen Protestan, menolak menjalani pengujian biometric karena norma agma, dan dua orang kopir Muslim menyatakan mereka tidak minum alkohol karena larangan agama.
Komisi tersebut akan mempertimbangkan keluhan secara individual. Jika konflik tidak selesai melalui negosiasi, masalah ini akan diselesaikan melalui pengadilan. Baru-baru ini wanita Muslim mengajukan tuntutan pada Abercrombie & Fitch Company.
Perusahaan tersebut memberlakukan penggunaan jilbab melanggar aturan berbusana dan memecat satu pegawai perempuan. Perempuan lain ditolak lamarannya karena dia memakai jilbab selama wawancara. Pengadilan meminta perusahaan memberikan kompensasi kepada wanita Muslim tersebut senilai $ 71,000.
Menurut para pengacara, keluhan akan berkurang jika perusahaan melakukan training tentang diskriminasi dan mengajari para pekerjanya toleransi beragama. (islam.ru/mukafi niam)

Bentuk-bentuk pelanggaran yang terjadi adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia pada kasus kedua, karena jika sikap yang diambil perusahaan tidak diubah seperti itu, akan sangat menggangu bagi orang-orang yang menggunakan jilbab karena penggunaan jilbab adalah hak mereka, dan mendapat perlakuan secara hormat juga hak mereka. Jilbab bukanlah suatu kendala yang harus membuat mereka harus dikucilkan atau tidak mendapat kesempatan dalam bekerja.
Ada juga pelanggaran UUD pada kasus yang pertama daam jam kerja. Tidak seharusnya para buruh bekerja melebihi batasan apalagi yang sudah ditetapkan oleh UUD, dan tidak seharusnya juga hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan tetapi diabaikan begitu saja. Meskipun para buruh mereka harus tetap dihormati, sehingga tidak ada lagi pelecehan pada buruh-buruh wanita.


DAFTAR PUSTAKA :

Indriyanti, L. (2010). Pengaruh Konflik Terhadap Kinerja Organisasi/Perusahaan. Jurnal Fokus Ekonomi. 1, 36 – 42

Kooter, J.P. (1999). What Leaders Really Do. Jakarta : Erlangga

Sarwono, S.W. (2005). Psikologi Sosial Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta : PT Persero Balai Pustaka