Mickey Mouse

Rabu, 23 April 2014

Tugas Pertemuan Kedua - KESEHATAN MENTAL


AUDI RESTI IRWANTI
2 PA 09 - 11512239

Tugas 2 !
STRES
A.      Arti Penting Stres
     Stres ini pasti pernah dialami oleh kita semua, baik yang ditimbulkan berdampak besar atau kecil. Stres yang dialami tiap individu pun berbeda meski seandainya peristiwa yang dialami sama. Dan dalam stres sendiri pun tidak semua selalu berkonotasi negatif atau jelek. Ada baiknya kita memahami defini dari stres untuk memahami lebih jauh mengenai stres.
       Ada beberapa pendapat yang mendefinisikan mengenai stres, diantara lain :
û  J.P Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi
Stres sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis.
û  Atkinson (1983)
Stres terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya.
û  Lazarus (1999, dalam Rod Plotnik 2005:481)
Stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.
B.       Tipe-tipe Stres Psikologis
Berbagai tipe stres psikologis, diantaranya :
§  Frustasi
Hal ini muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan tertentu, yang biasanya dalam menggapai tujuan tersebut ada suatu permasalahan dan individu yang mengalami ini tidak mampu menjalani rintangan tersebut sehingga mengalami kegagalan atau frustasi. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan atau kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, dsb)
§  Konflik
Muncul ketika individu berada dalam kondisi di bawah tekanan untuk merespon dua atau lebih dorongan yang saling bertentangan secara simultan atau bersamaan. Bentuk konflik juga terdiri dari empat bagian yaitu,
-          Approach-Approach Conflict
Dua pilihan yang masing-masing memiliki alternatif yang diinginkan.
-          Approach-Avoidant Conflict
Satu bjek memiliki konsekuensi positif ataupun negatif.
-          Avoidant-Avoidant Conflict
Dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi negatif.
-          Double Approach-Avoidance Conflict
Dua alternatif yang sama-sama memiliki konsekuensi positif dan negatif.
§  Tekanan
Biasanya tekanan didapat dari tuntutan kehidupan sehari-hari, bisa juga berasal dari dalam diri individu dan luar diri.
§  Kecemasan
Cemas biasanya adalah perasaan samar-samar. Merupakan suatu kondisi saat individu merasakan suatu kegelisahan atau kekhawatiran, rasa tidak nyaman dan ketegangan yang tidak terkendali yang berkaitan dengan kemungkinan adanya suatu hal yang buruk. Simtom cemas biasanay ditandai dengan jantugn berdebar, ketegangan otot, keringat dingin. Simtom ini dianggap wajar secara psikologis jika masih dalam internsitas yang normal. Karena kecemasan bisa dikatakan sebagai alarm yang memperingatkan akan adanya bahaya terdekat dan membangkitkan kita untuk merespon secara cepat pula.
C.      Symtom – Reducing Respons Terhadap Stres
     Dalam penyesuaian diri terhadap stres yang bersifat mengurangi atau memperlemah simtom stres ada dua macam :
S  Yang bersifat tak disadari, seringkali dilakukan adalah defense mechanism (mekanisme pertahanan diri atau ego).
Mekanisme pertahanan diri ini biasanya digunakan oleh self/ego untuk melindungi dari segala ancaman, sifatnya kebanyakan tidak disadari, tetapi otomatis muncul saat individu menghadapi ancaman baik dengan kesadaran minimum atau tidak sama sekali. Jenisnya antara lain :
§  Represi, menekan pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan ke bawah sadar.
§  Supresi, upaya sadar individu untuk mengendalikan keinginan yang memunculkan kecemasan.
§  Pengingkaran, menolak melihat atau mendengar aspek realita yang tidak menyenangkan atau mengancam.
§  Rasionalisasi, usaha untuk memberikan alasan pada perilaku yang tidak diterima dalam cara yang diterima sosial dan rasional.
§  Regresi, mundur pada fase perkembangan sebelumnya.
§  Proyeksi, upaya individu untuk melemparkan penyebab frustasinya pada orang lain.
§  Reaksi-formasi, mengalihkan motif yang dimiliki ke motif lain yang berlawanan, dll.
S  Yang bersifat disadari, seperti membicarakannya dengan orang lain, melakukan pekerjaan lain yang mengurangi simtom stres ataupun tertawa.
D.      Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres
     Dalam upaya menghilangkan sumber stres terdapat beberapa strategi tertentu sehingga lebih terarah, yaitu :
-          Memodifikasi diri agar lebih toleran terhadap stres.
-          Memodifikasi situasi yang menimbulkan stres.
Dalam hal ini disebukan beberapa bentuk meningaktakan toleransi terhadap stres,
a.         Toleransi terhadap tekanan
Membiasakan diri bekerja di bawah stres dengan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan.
b.        Toleransi terhadap frustasi
Berusaha lebih peka pada lingkungan untuk mencoba memahami sumber frustasi kita belajar untuk menunda pemuasan atau kesenangan.
c.         Toleransi terhadap konflik
Menyadari adanya konflik mencari segi positif terbanyak dan efek emosionalnya
d.        Toleransi terhadap kecemasan
Mencoba tetap merasakan kecemasan tanpa mengurangi performa kita menggali lebih banyak pengalaman dan belajar menghadapi situasi yang membuat kita cemas.
Pendekatan yang berorientsi pada tugas dibagi kedalam tiga kelompok, yaitu :
a.         Pendekatan Asertif. Merupakan pendekatan yang menekankan pada usaha-usaha individu untuk mengekspresikan hak dan keinginan tanpa merebut hak orang lain.
b.        Pendekatan Menarik Diri. Dapat dilakukan apabila sumber stres tidak dapat dihilangkan dengan asertif dan kompromi. Strategi sementara untuk mengatasi stres yang dapat berakibat memperburuk kesehatan individu tersebut. Misal: cuti kuliah untuk mengumpulkan biaya kuliah.
c.         Berkompromi. Biasa digunakan apabila agen sumber stres memiliki otoritas lebih tinggi dari kita, atau sama-sama seimbang. Baik-buruknya sangat tergantung pada sejauhmana kepuasan dapat diperoleh individu, dan sebesar apa usaha yang dilakukan untuk mengurangi stres. Tiga tipe kompromi:
1.      Comformity
Merubah sikap menjadi lebih realistik mengikuti prosedur umum yang berlaku.
2.      Negotiation
ecara aktif mencapai kompromi dengan berbagai situasi stres, biasa digunakan pada area publik dan interpersonal, lebih baik daripada kompromi karena sifatnya mutual.
3.      Substitution
Memutuskan alternatif pemecahan terbaik untuk mencapai tujuan yang sama.

HUBUNGAN INTERPERSONAL
A.  Model – Model Hubungan Interpersonal
S  Social Model (Fair-Exchange Model)
Tujuannya adalah mencapai kepuasan kebutuhan diantara individu yang terlibat. Ada tiga prinsip dasar pada model sosial ini, yaitu :
§  Reward, penghargaan yang merupakan suatu bentuk keuntungan dari suatu hubungan yang memiliki nilai positif.
§  Cost, semua bentuk kehilangan yang didapat dari suatu hubungan dan memiliki nilai negatif, biasa disebut dengan kerugian.
§  Fair-Exchange, adanya perbedaan antara reward dan cost akan membentuk dinamika suatu hubungan. Apabila reward lebih besar daripada cost maka hubungan dikatakan menguntungkan, sedangkan jika costnya yang lebih besar daripada reward maka hubngan tersebut tidak adil.
S  Transactinal Analysis Model
Biasa disebut dengan teori permainan yang mengkombinasikan antara ego states dan transaksi eksternal. Konsep dasar model ini adalah :
§  Ego States, konsep yang menjelaskan sistem berhubungan antara perasaan dalam diri individu dengan persepsinya yang dimasukan dalam pola-pola perilaku, seperti pada kata yang diucapkan, perubahan suara, ekpresi wajah, gerak tubuh dan posisi tubuh.
§  Transaction, pertukaran antara individu yang terlibat memberi stimulus dan individu yang merespon diantara masing-masing ego state mereka.
§  Stroke, tanda perhatian atau sentuhan pada individu lain. Stroke yang menyenangkan atau positif seperti senyuman, pelukan, tepukan bahu, dsb. Sedangkan stroke negatif atau perasaan tidak menyenangkan seperti omelan, wajah cemberut, dsb.
§  Life Position, menunjukan empat tipe individu ( Depresif, Sia-sia, Sehat dan Paranoid) dalam posisi Ok atau tidak k dalam suatu hubungan dengan orang lain.
B.  Pembentukan Kesan & Ketertarikan Interpersonal
       Dalam pembentukan kesan baisanya merupakan sautau bentuk hasil pengamatan indera karena ini merupkaa suatu penilaian singkat serta hanya menyimpan sedikit informasi tentang objek pengamatan tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesan ini diantara lain :
a.       Terbatasnya informasi
b.      Kesamaan, jadi membandingkan objek dengan diri kita
c.       Isyarat yang keliru
d.      Streotipe
e.       Kesalahan logis
f.   Hallo Efect dan Devil Effect, rasa suka atau tidak akan mempengaruhi penilaian terhadap perilaku orang lain
       Dalam ketertarikan interpersonal banyak sekali faktor yang membuat orang lain tertarik / suka pada diri kita, diantaranya faktor tersebut adalah :
1.      Karakter Pribadi
             Dalam daya tarik bagi oranglain pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua yaitu yang bersifat fisik (wajah, rambut, tubuh) dan yang bersifat nonfisik (kepribadian, intelegensi, minat dan hobby). Peneliti pun terus berusaha mengidentifikasikan beberapa karakter umum yang dapat mempengaruhi rasa suka seseorang terhadap orang lain. Karakter umum tersebut antara lain :

S  Ketulusan
Penelitian yang dilakukan oleh Norman Aderson pada mahasiswa tahun 1960-n menunjukkan bahwa ketulusan adalah sifat yang paling dihargai.
S  Kehangatan Personal
Ini merupakan karakterisitik pokok yang mempengaruhi pesan pertama kita mengenai orang lain. Biasanya terlihat hangat dan ramah apabila dia menyukai hal tertentu yang sedang dibicarakan, memujinya dan menyetujuinya.
S  Kompetensi
Orang yang lebih memiliki kompetensi cenderung lebih dihargai utnuk diajak menjalin hubungan daripada yang tidak berkemampuan, karena pada umumnya kita menyukai orang yang tampil secara sosial, cerdas dan kompeten.
S  Daya Tarik Fisik
Menurut Walster,dkk. rasa suka seseorang berkaitan dengan daya tarik fisiknya. Hal ini disebabkan karena adanya “Hallo Efect”, dimana kita cenderung  mengatakan orang yang menarik secara fisik juga memiliki sejumlah karakteristik lain yang menyenangkan.
2.      Kesamaan
             Ada dua penjelasan utama dalam pentingnya kesamaan dalam ketertarikan interpersonal yaitu kesamaan biasanya mendatangkan ganjaran dan keterkaitan dan kesamaan – rasa suka dengan teori keseimbangan kognitif. Pertama, orang yang memiliki kesamaan cenderung menyetujui dan mendukung keyakinan kita tentang kebenara-kebenaran pandangan. Kesamaan nilai dan minat merupakan dasar untuk melakukan aktivitas bersama dengan orang lain. Kedua, menurut teori kognitif, orang berusaha mempertahankan keselarasan dan kostitensi diantara sikap mereka, mengatur rasa suka dan tidak suka mereka menjadi tidak seimbang. Menyukai seseorang dan pada saat yang sama menentang orang itu mengenai masalah yang fudamental merupakan hal yang secara psikologis tidak menyenangkan. Kita memaksimalkan keseimbangan kognitif dengan menyukai orang yang mendukung pandangan kita dan tidak menyukai orang yang menentangnya.
3.      Keakraban
             Menurut Atkinson,dkk. salahsatu alasan bahwa kedekatan dapat menimbulkan rasa senang pada seseorang adalah bahwa kedekatan dapat meningkatkan keakraban. Dan adanya fenomena oleh Sears dkk. yang disebut sebagai efek eksposur belaka dimana seringnya berhadapan dengan seseorang dapat meningkatkan rasa suka kita terhadap orang lain.
4.      Kedekatan
Terdapat tiga faktor yang menghubungkan antara kedekatan dan daya tarik interpersonal, yaitu :
S  Kedekatan biasanya meningkatkan keakraban
S  Kedekatan sering berkaitan dengan kesamaan
S  Bahwa orang yang dekat secara fisik lebih mudah didapat daripada orang yang jauh

C.  Intimasi & Hubungan Pribadi
       Membicarakan suatu keintiman akan mengarahkan pada aspek emosional yang biasanya berkaitan dengan ikatan cinta. Termasuk adanya kedekatan antara individu, saling berbagi, adanya komunikasi dan usaha untuk saling mendukung. Keintiman sendiri berarti adanya hubungan kelekatan personal kepada individu lain juga dalam berbagi pemikiran dan perasaan terdalam.
       Keintiman juga bukanlah suatu relasi yang begitu saja terjadi, ada beberapa kondisi yang jika berkembang, hubungan pribadi akan lebih mendalam, seperti :
-          Saling mengungkapkan diri
Sebgai kesadaran antara dua orang atau lebih untuk berbagi pemikiran dan perasaan.
-          Kesesuaian pribadi
Faktor yang menghubungkan antara pengungkapan diri dengan keintiman pada individu.
-          Saling membantu
Kondisi ini atas keinginan membantu pasangan serta keinginan mendapatkan bantuan dari pasangan.

Sumber :
1.      Basuki, A.M Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta. Gunadarma.
2.      Riyanti, B.P. Dwi, Hendro Prabowo. (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta. Gunadarma
3.      http://eprints.undip.ac.id/38840/1/KESEHATAN_MENTAL.pdf

Tulisan Pertemuan Kedua - KESEHATAN MENTAL


Tulisan 2 !

1.                  Pengalaman stres yang saya alami disini saat saya masih duduk dibangku SMK. Ya, karena kebetulan saat SMK saya mengikuti suatu organisasi bahkan menjabat sebagai ketua dalam organisasi tersebut. Betapa banyak permasalahan yang ada di organisasi yang bisa membuat saya atau bahkan satu angkatan saya mengalami stres, salah satunya yang akan saya ceritakan adalah saat angkatan juga junior-junior saya memutuskan untuk mengikuti lomba di luar Kabupaten Bekasi. Dalam keputusan awal ini sebenernya tidak telalu berdampak begitu besar pada tingkat stres yang saya alami, di awal-awal latihan persiapan lomba tidak telalu mengalami bayak masalah, karena prosesnya seperti biasa jika ada lomba yang akan kami ikuti. Tetapi saat mulai masuk waktu Tekhnical Meeting, ini sudah mulai banyak menghabiskan waktu untuk berpikir bagaimana caranya kami semua bisa mengikuti lomba ini, yang ternyata tidak mendapat izin dari pihak sekolah, karena lomba ini diadakan saat sekolah sudah memasuki masa liburan. Setiap jam saat sekolah, sering kali saya dan teman satu angkatan memikirkan mau seperti apa konsep kita nanti, bagaimana cara mendapat izin orangtua murid, agar mengizinkan anak-anaknya mengikuti lomba ini.
            Singkat cerita, disini saya dan teman-teman, memikirkan administrasi persyaratan untuk lomba tersebut (karena tidak mendapat izin sekolah, jelas kami melakukan suatu kecurangan administrasi), memikirkan cara berangkat ke Bogor nanti (tempat kami mengikuti lomba), memikirkan anggota lomba yang saat H-1 batal ikut karena ketahuan oleh orangtuanya ini bukan izin resmi yang diberikan sekolah, bahkan saat selesai lomba dan masuk sekolah, kami bermasalah dengan para pembina ekstrakulikuler, kami memikirkan perpecahan antara alumni organisasi dengan pihak sekolah (masih dalam pembahasan lomba kami ini, pihak alumni membela kami, sedangkan pihak sekolah tidak terima), dan disitu posisinya saya dan teman-teman kelas 3 yang sebentar lagi akan mengalami ujian, pikiran-pikiran negatif pun akhirnya muncul di tiap kepala kami, di skorsing lah, tidak diizinkan ikut ujian nasional, atau bahkan dipanggil orangtua, aaah… itu membuat kami semua stres, pusing, dan tidak tahu harus melakukan apa.
            Tetapi kami semua bersyukur, ditengah kegundahan kami, stres kami yang memuncak, banyak alumni yang memotivasi kami dan meberikan dukungan pada kami, bahkan semangat ini kami dapat bukan hanya dari alumni yang satu organisasi dengan saya, bahkan yang beda organisasi pun medukung kami, dan meminta kami tidak memikirkan hal ini, kami semua diminta untuk tetap fokus dengan belajar untuk menghadapi ujian. Diujung keputusan, kami semua disidang dengan petinggi sekolah, ada kepala sekolah, wakil kepala sekolah juga para pembina organisasi, kami diminta meminta maaf dengan membuat surat pernyataan. Perasaan kami semua sedih, kacau saat pembina organisasi mengungkapkan kekecewaannya pada kami semua meski beliau bangga pada kami, karena kami berhasil memenangkan perlombaan tersebut dengan mendapat piala Menpora dan uang jutaan rupiah. Tingkat kebingungan kam semua memuncak karena alasan kami melakukan ini sebenarnya karena ingin mebuat pembina kami bangga. Yaa, banyaknya kondisi yang menekan ini yang membuat kami semakin stres, tidak banyak cara kami menanggulanginya selain dengan menggunakan strategi terfokus masalah. Kami semua memfokuskan perhatian pada masalah yang ada, mencari permasalahn alternatif, dan menentukan dengan cara tersebut dapat di implementasikan atau tidak. Dan dari banyaknya motivasi dari pihak lain yang membuat saya dan juga teman-teman bisa menyelesaikan dengan baik, tetap tenang dalam menghadapi masalah ini dan bisa bertanggung jawab atas apa yang telah kami lakukan.
2.      Terdapat berita mengenai stres yang saya ambil dari Warta Kota edisi Kamis 17 April 2014 yang berjudul “Caleg Camel Petir Mengaku Stres Berat”, yang isinya sebagai berikut,
Caleg Camel Petir Mengaku Stres Berat
            Pedangdut ini mengaku stres saat menunggu hasil pemungutan suara. “Kalau dibilang stres memang benar. Karena deg-degan menunggu keputusan KPU soal hasil suara partai”, ujar Camel saat ditemui watawan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Camel juga mengungkapkan bahwa ia stres bukan karena memikirkan suaranya tapi lebih pada ke partai, dn hasil dari quick count itu belum bisa dipercaya karena jumlah yang valid adalah yang berasal dari hasil perhitungan KPU. Sementara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) telah menyiapkan jaminan kesehatan bagi caleg yang stres karena kalah Pileg 2014 di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.
            Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Indragiri Hulu siap menangani dan mengantarkan para caleg yang mengalami gangguan mental ke RSJ di Pekanbaru. Sedangkan Kesiapan Dinsos Inhu ini dilakukan guna mengatasi dampak Pileg 2014 yang sudah memasuki tahapan penghitungan dan penetapan kursi.
            “Sesuai tupoksi kami siap mengantarkan ke RSJ di Pekanbaru bila memang ada caleg yang stres dan ingin direhabilitasi,” katanya. Seperati diberitakan, seperti Pileg 2009 dengan banyaknya caleg gagal jadi anggota dewan yang menderita gangguan jiwa, tahun ini RSJ Soeharto Heerdjan di Jl Latumenten, Grogol, Jakarta Barat, siap menampung mereka. Bahkan pihak RSJ telah menyiapkan ruangan VIP untuk para pasien caleg gagal.

            Pendapat saya mengenai berita yang berkaitan dengan stres ini, seharusnya untuk para calon pemimpin mereka sudah harus memiliki kepribadian yang baik, juga dalam sisi psikologisnya. Kepribadian yang sehat akan selalu berpikir positif meskipun ada tujuan yang tidak bisa dicapai, inilah salah satu bentuk menurunnya kadar calon pemimpin Indonesia, dimana mereka yang seharusnya sudah lebih unggul sehingga layak menjadi calon pemimpin malah mengalami stres berlebihan yang menyebabkan mereka yang gagal dalampemilihan harus masuk dalam RSJ. Seperti yang dikatakan dosen Psikodiagnostik, seharunya mereka yang gagal jika memiliki kepribadian yang baik tidak harus mengalami stres berlebihan karena tidak tercapainya tujuan ini. Semoga hal ini bisa dijadikan suatu pembelajaran, bahwa kita harus siap atas hasil baik ataupun buruk dalam suatu pencapaian tujuan, sedih boleh asal jangan berlebihan atau menimbulkan depresi karena itu bukanlah tipe dari pekribadian yang matang.

Sumber :
1.      Warta Kota, Kamis 17 April 2014

Jumat, 28 Maret 2014

TULISAN 1 - KESEHATAN MENTAL

Tulisan 1 !
AUDI RESTI IRWANTI
2 PA 09 / 11512239

I.                         Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama saya Audi Resti Irwanti. Saya dilahirkan di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 1994. Sekarang saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Gunadarma jurusan Psikologi, dan masuk dalam kelompok kelas 2PA09. Saya tinggal di daerah Cikarang Utara – Kabupaten Bekasi.
      Menurut rekan saya, saya itu memiliki sikap tegas, hal ini mungkin dikarenakan saya menyukai hal yang mengarah pada kedisiplinan, karena dari jaman Sekolah Dasar orangtua saya sudah membiarkan saya untuk mengikuti berbagai oraganisasi yang mengarah pada kedisiplinan seperti pramuka juga paskibra. Saya menyukai hal-hal yang dikerjakan dengan gerakan cepat atau biasa disebut gercep. Saya senang jika bisa berdiskusi dengan orang-orang yang memang saya percayai. Saya merasa bahwa saya itu mandiri karena orangtua saya pun tidak membiasakan untuk memanjakan tiap anaknya, itu merupakan beberapa dari kelebihan yang saya miliki.
      Seperti manusia biasanya, saya pun mempunyai kekurangan. Diantaranya, saya itu gampang pesimis. Selalu merasa engga enakan sama oranglain. Saat saya marah atau bete dengan suatu keadaan, saya lebih suka diam, bahkan trkadang saya lebih suka menyendiri jika sedang marah. Kadang juga saya egois, ingin menyelesaikan segala sesuatunya sendiri. Karena saya terkadang merasa nyaman dan merasa bisa mengerjakan dengan cepat jika dikerjakan sendiri. Saya juga terkadang dibilang memiliki inisiatif atau tingkat nalar yang tinggi dari nalar yang tinggi itu saya jadi suka negatif thinking pada oranglain. Semoga berbagai kekurangan yang saya sebutkan tidak diikuti atau dialami oleh teman-teman yagn membaca ini ^^
II.                      Ada kutipan berita yang saya dapat dari koran “ Pos Kota “, yang tebit pada tanggal 25 Maret 2014 yang isinya sebagai berikut,
“ Lompat dari lantai 5 RS pasien DBD tewas, diduga tak punya biaya “
      Pulogadung – pasien penderita DBD, Saparudin Siregar, 38, tewas diduga setelah melompat dari lantai 5 RS Omni Pulomas, Pulogadung, Jakarta Timur, korban bunuh diri lantaran tak punya uang untuk membayar perawatan rumah sakit.
      Kapolsek Pulogadung, Kompol M.Nasir, senin, menjelaskan menurut keterangan saksi yakni dua karyawan RS. Omni, Ahmad dan Solihin, korban dirawat sejak kamis (20/3) di ruang rawat di lantai 5 dekat jendela.
Tiba-tiba pada minggu (23/3) siang pukul 14:15, korban yang diketahui warga kelurahan Rawa Terate, Cakung itu membuka jendela di ruang perawatannya dan terjatuh. “ Korban terbentur kanopi di lantai satu dan jatuh kebawah dengan luka-luka. Lengan sebelah kanan patah, perut bagian kanan sobek pendarahan, lengan tangan kiri luka lecet. Korban meninggal setelah mendapat perawatan selama 3 jam.” Ujar kapolsek.
Menangapi peristiwa ini, Komite Etik dan Humaskum RS Omni Polumas, engan merinci permasalahan apa yang telah dialami pasien.
Meurut tetangganya, saparudin dikenal kurang sosialisai dengan para tetangga. Dari informasi yang diperoleh pun, istri saparudin juga tengah dirawat diurmah sakit, yang juga sedang mengalami sakit parah, namun bemu diketahui mengalami sakit parahtetapi belum tau penyakitnya apa dan dirawat dimana.

Menurut pendapat saya mengenai berita tersebut, dari permasalahan awal pun sudah diketahui bahwa korabn tidak pandai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, bisa dikatakan korban tidak pandai menyesuaikan diri, padahal meurut Desmita ( 2009:191 ) penyesuaian diri ini menyangkut aspek kepribadian individu, sehingga dengan tidak adanya banyak teman, individu cenderung akan menyimpan permasalahan sendiri, todak bisa berdiskusi untuk meringankan beban yagn dihadapinya, seperti permasalahn biaya yang idalami korban untuk membayar rumah sakit. Dari seringnya memendam masalah sendiri akan membuat individu stres, stres inilah yang membuat seorang individu menjadi memiliki kepribadian yang tidak sehat mental atau fisik.
Maka dari itu, kita semua yang telah memahami konsep sehat, penyesuaian diri ada baiknya melakukan yang seharusnya dilakukan dengan baik, agar terhindar dari stres, dan penyakit jiwa lainnya.

Sumber :
1.      Pos Kota. Lompat Dari Lantai 5 RS Pasien DBD Tewas, Diduga Tak Punya Biaya. 2014. Jakarta

2.      Desmita. Psikologi Perkembangan. 2009. Bandung. Remaja Rosda Karya

Kamis, 27 Maret 2014

TUGAS 1 - KESEHATAN MENTAL

Tugas 1 !

AUDI RESTI IRWANTI
2 PA 09 / 11512239

Pengantar :
A. Orientasi Kesehatan Mental
Sebelum masuk pada orientasi kesehatan mental sudah selayaknya saya membahas terlebih dahulu tentang pengertian dari kesehatan mental sendiri. Disini saya sajikan beberapa pendapat dari berbagai tokoh mengenai kesehatan mental,
 Zakiah Darajat, berpendapat bahwa Kes-Men adalah terhindar seorang dari gangguan dan penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah serta dapat menggunakan potensi yang ada padanya seoptimal mungkin ( Islam dan Kesehatan Mental : 1983 )
 M.Buchri, Kes-Men merupakan ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi ruhani. ( Psikologi Agama : 2004 )
Dengan beberapa pendapat dapat disimpulkan sedikit bahwa kesehatan mental ini erat kaitannya dengan kondisi seserang dalam menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang sedang dihadapi.
Masuk pada inti pembahasan yaitu orientasi kesehatan mental, Saparinah Sadli mengutarakan tiga orientasi dalam kesehatan mental / jiwa ini, diantaranya :
1. Orientasi Klasik
Pada orientasi ini, individu dikatakan sehat apabila tidak memiliki beberapa perlakuan tertentu seperti kecemasan, rasa lelah, rendah diri, ketegangan ataupun segala sesuatu yang menganggu efisiensi kegiatan sehari-hari. Dan biasanya orientasi ini diaplikasikan pada lingkungan dokter.
2. Orientasi Penyesuaian Diri
Jika pada orientasi sebelumnya individu tidak memiliki beberapa tindakan “negatif”, orientasi disini lebih menekankan, individu dianggap sehat yagn mampu mengembangkan dirinya sesuai lingkungan sekitar yagn dilihat dari sudut pandang psikologis.
3. Orientasi Pengembangan Potensi
Di orientasi ini individu telah mencapai tarap kesehatan jiwa, jika individu ini mendapat kesempatan dalam mengembangkan potensinya untuk menuju kedewasaan sehingga muncullah rasa aktualisasi diri untuk dihargai orang lain dan dirinya sendiri.

B. Konsep Sehat
Banyak sekali pertanyaan yang muncul saat mendengar kesehatan mental, seperti apa kepribadian yang sehat? Bagaimana sifat-sifat atau perilaku seperti apa yang menunjukkan bahwa individu itu termasuk dalam individu yang memiliki kepribadian sehat? Dan sebenarnya dalam konsep sehat dan kesehatan sendiri merupakan dua hal yagn hampir samatapi bisa dikatakan juga berbeda. Konsep sehat menurut Parkins ( 1938 ) merupakan suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk fungsi tubuh dan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Sementara menurut White ( 1977 ), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada saat diperiksa tidak memiliki berbagai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.

Konsep sehat juga merupakan suatu keadaan normal yang sesuai dengan standar yang diterima oleh kalangan masyarakat berdasarkan kriteria tertentu. Dan pengertian sehat menurut WHO ( World Health Organization ) merupakan suatu keadaan ideal baik dari segi biologis, psikologis dan sosial sehingga tiap individu bebas melakukan serangkaian kegiatan secara optimal, yang mengandung tiga karakterisitik, yaitu :
1. Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia.
2. Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal ataupun eksternal.
3. Sehat yang diartikan sebagai hidup yagn kreatif dan produktif.

C. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah perkembangan kesehatan mental ini pertama kali pada jaman dahulu saat nenek moyang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri. Mereka mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental. Jadilah manusia yang dengan rasa putus asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental. Dengan kesehatan mental ini kita dapat bandingkan dengan mata uang yang mempunyai dua sisi yang di sisi satunya sakit dan yang di sisi satunya lagi baik . Yang bisa dilihat kemungkinan di kedua sisi itu kira kira fifty – fifty.

Penjelasan sejarah kesehatan mental tidak sejelas sejarah ilmu kedokteran. Dikarenakan masalah mental bukanlah masalah fisik yang dengan mudah diamati dan terlihat. Ini karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa bukan lagi sebagai gangguan.

Namun ada beberapa periodesasi sejarah perkembangan ilmu kesehatan mental ini, yang akan dibahas singkat dibawah ini,
 Zaman Prasejarah
Manusia purba jaman dahulu ini sering sekali mengalami gangguan mental atau fisik.
 Zaman Peradaban Awal
Terdapat beberapa pendapat dari fisuf-filsuf zaman ini,
- Pythagoras : yang pertama kali memberikan penjelasan alamiah terhadap penyakit mental.
- Hypocrates : mengatakan bahwa penyakit/gangguan otak merupakan penyebab penyakit mental.
- Plato : berpendapat bahwa berbagai macam gangguan mental, moral ataupun fisik berasal dari para dewa-dewa.
 Zaman Renaissessus
Pada zaman ini beberapa tokoh agama, ilmu kedokteran adan juga filsafat mulai menyangkal gangguan mental berkaitan dengan dunia takhayul.
 Era Pra Ilmiah
- Kepercayaan Animisme : yang muncul dalam konsep primitif yagn percaya pada faham animisme yang dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa.
- Kepercayaan Naturalisme : yang berpendapat bahwa gangguan mental/fisik itu akibat dari alam sekitar.
 Era Modern
Mulai mengalami perubahan yagn luar biasa saat berkembang psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika.

Teori Kepribadian Sehat :
A. Aliran Psikoanalisa
Kepribadian menurut Freud terdiri dari 3 sistem pokok, meskipun masing-masing bagian mempunyai fungsi, sifat, komponrn,dan mekanisme sendiri , namun mereka berinteraksi dengan sangat erat satu sama lainnya. 3 sistem pokok yang dimaksud akan dibahas dibawah ini yaitu :


 Id
Ini merupakan suatu sistem kepribadian yang asli, yang merupakan tempat berkembangnya ego dan super ego. Id merupakan reservoir energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menjalakan kedua sistem yang lain. Jika ada keadaan tegang dari stimulus luar atau rangsangan dari dalam, id akan bekerja sedemikian rupa untuk menghentikan tegangan dan mengembalikan organisme pada tingkat energi rendah dan menyenangkan.
 Ego
Ego ini timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan yang objektif. Ego ini dikatakan mengikuti prinsip kenyataan dan beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan dari prinsip kenyataan sendiri adalah mecegah terjadinya tegangan sampai ditemukannya suatu objek yang cocok untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Sedangkan berpikir sekunder ini dikatakan sebagai berpikir realistik. Ego disebut eksekutif kepribadian dikarenakan ego ini mengontrol ke arah tindakan. Memilih lingkungan kearah mana akan diberi respon, dan memutuskan insting apa yang akan dipuaskan dan bagaimana cara ia memuaskannya.
 Superego
Adalah perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat, superego ini merupakan wewenang moral dari kepribadian yang mencerminkan yang ideal dan bukan yang real juga yang memperjuangkan kesempurnaan dan bukan kenikmatan.

Kesimpulan disini bahwa kepribadian yang sehat ini biasanya berfungsi sebagai sautu kesatuan, bukanlah sebagai dari tiga bagian yang terpisah, yang secara umum id bisa dipandang sebagai komponen biologis kepribadian, sedangkan ego sebagai komponen psikologis dan superego sebagai komponen sosialnya.

B. Aliran Humanistik
Menurut humanistik kepribadian yang sehat dituntut untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. bukan hanya mengandalkan pengalaman-pengalaman yagn terbentuk dari masa lalu yang mengajarkan mengenai pola yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif. Ciri kepribadian sehat ini yaitu mengatualisasikan diri jadi bukan respon yang buatan ataupun individu yang terimajinasi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi lah yang mengedepankan keunikan dari dalam pribadi tiap individu yang memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu menjadi kebutuhan.

C. Pendapat Fromm
Disini from memandang kepribadian sebagai suatu kebudayaan karenanya ia percaya bahwa kesehatan jiwa harus didefinisikan menurut baiknya masyarakat menyesuaikan dirinya dengan kebutuhan-kebutuhan dasar. Menurutnya masyarakat yang tiak sehat akan menciptakan berbagai macam permusuhan , kecurigaan ataupun ketidak percayaan pada tiap anggota-anggotanya. Masyarakat yang sehat, biasanya akan membiarkan masing-masing mengembangkan cinta satu sama lainnya hingga menjadi produktif dan kreatif, mempertajam dan memperhalus tenaga pikiran juga mempermudah individu-individu berfungsi sepenuhnya.

Fromm mengambarkan kepribadian yang sehat yaitu yang mencintai dengan sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara objektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, dsb. Fromm menyebutnya orientsi produktif yaitu suatu konsep yang serupa dengan kepribadian yagn matang dari Allport dan orang yang mengatualisasikan diri dari Maslow. Dengan “orientasi” Fromm menunjukan bahwa merupakan segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respon-respon intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda dan peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri.

Penyesuaian Diri :

 Konsep Penyesuain Diri
Ada beberapa pendapat tokoh mengenai penyesuain diri, diantaranya :
1. Kartini kartono
Usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis.
2. Desmita
Suatu konstruksi/bangunan psikologi yang luas dan komplek, serta melibatkan semua reaksi individu terhadap tuntutan baik dari lingkungan luar maupun dari dalam diri individu itu sendiri. Dengan perkataan lain, masalah penyesuaian diri menyangkut aspek kepribadian individu dalam interaksinya dengan lingkungan dalam dan luar dirinya.
Aspek-aspek penyesuaian diri menurut Fromm san Gilmore, yaitu :
1. Kematangan emosional, mencakup :
• Kemantapan suasana dalam kehidupan emosional
• Kemantapan suasana kehidupan kebersamaan dengan orang lain
• Kemampuan untuk santai, gembira dan menyatakan kejengkelan
• Sikap dan perasaan terhadap kemampuan dan kenyataan diri sendiri
2. Kematangan intelektual, mencakup :
• Kemampuan mencapai wawasan diri sendiri
• Kemampuan memahami orang lain dan keragamannya
• Kemampuan mengambil keputusan
• Keterbukaan dalam mengenal lingkungan
3. Kematangan sosial, yang mencakup :
• Keterlibatan dalam partisipasi sosial
• Kesediaan kerjasama
• Kemampuan kepemimpinan
• Sikap toleransi
4. Tanggung jawab, mencakup :
• Sikap produktif dalam mengembangkan diri
• Melakukan perencanaan dan melaksanakannya secara fleksibel
• Sikap empati, bersahabat dalam hubungan interpersonal
• Kesadaran akan etika dan hidup jujur

Sumber :
1. Schultz. Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta : Kanisius
2. Supratiknya. Teori-teori Psikodinakim (Klinis). 2005. Yogyakarta : Kanisius
3. http://idb4.wikispaces.com/file/view/uf4018.2.pdf
4. http://www.kajianpustaka.com/2013/01/teori-penyesuaian-diri.html
5. http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/10/jtptiain-gdl-s1-2005-tatikharya-497-BAB2_410-0.pdf
6. http://delimandut.blogspot.com/2013/03/konsep-sehat-sejarah-perkembangan.html
7. http://uin-alauddin.ac.id/artikel-79-konsep-sehat-dan-sakit.html
8. http://cardiacku.blogspot.com/2012/06/konsep-sehat.html
9. http://www.psychologymania.com/2011/09/periodesasi-sejarah-perkembangan-ilmu.html
10. m.kompasiana.com/post/read/642772/2/hubungan-psikologi-klinis-dengan-teori-kepribadian-html